Momen Haru dan Inspiratif: Upacara Terakhir Kelas 12 MAN 1 Mamuju di Bawah Arahan Pengawas Pembina Madrasah

Mamuju, Suasana khidmat menyelimuti lapangan MAN 1 Mamuju pada Senin pagi, 9 Februari 2026. Upacara bendera rutin kali ini terasa berbeda karena menjadi momentum terakhir bagi siswa-siswi Kelas 12 bertugas sebagai pelaksana upacara sebelum mereka fokus menghadapi Ujian Madrasah dua pekan mendatang.

Pembina dan Pengawas Madrasah, Ma’ruf B, S.Pd., selaku Pembina Upacara, memberikan amanat yang membakar semangat sekaligus menyentuh hati seluruh peserta upacara.

Dalam amanatnya, Ma’ruf menekankan pentingnya rasa nasionalisme.

“Banyak orang berilmu tapi tidak memiliki rasa cinta kepada tanah airnya, dan orang yang seperti ini akan salah arah. Upacara adalah tempat memahami itu semua; catatan sejarah di mana bendera dikibarkan dengan segala pengorbanan,” tegasnya.

Ia mengingatkan para siswa bahwa masa depan harus dirancang dengan matang.

“Hidup ini by design, bukan by accident. Hidup itu diperjuangkan, bukan sekadar berjalan apa adanya,” tambahnya.

Belajar dari tokoh dunia, Bapak Pembina Pengawas mengutip pemikiran besar Imam Ghazali.

“Takdir tidak meniadakan ikhtiar, karena manusia itu memiliki tanggung jawab.”

Ia juga mengutip kata-kata pendiri WhatsApp, Jan Koum:

Hidup yang tidak didesain akan dikendalikan keadaan, karena manusialah yang menentukan.

Beliau menceritakan kisah inspiratif Jan Koum yang bermigrasi ke Amerika di usia 16 tahun tanpa harta, hanya modal semangat hingga sukses mendirikan WhatsApp. Begitu pula perjalanan Cristiano Ronaldo yang berjuang dari kemiskinan di Lisbon hingga menjadi megabintang dunia.

Namun, ia menegaskan bahwa inspirasi terbaik tetaplah Nabi Muhammad SAW.

“Bakat tidak ada apa-apanya tanpa kerja keras. Masa depan yang cerah tidak menunggu orang yang enggan berikhtiar. Ia hanya milik mereka yang disiplin dan bersungguh-sungguh,” pesannya kepada para peserta upacara.

Selain memberikan arahan kepada siswa beliau juga memberikan refleksi mendalam bagi guru dan staf kependidikan. Ia mengibaratkan pendidik sebagai petani.

“Hakikatnya kita adalah petani , kita mesti memperhatikan tanaman kita. Apapun hasilnya, itu tergantung dari bagaimana perhatian kita. Datanglah ke madrasah dengan niat ibadah.”

Menutup rangkaian upacara, beliau mengajak seluruh keluarga besar MAN 1 Mamuju untuk berkomitmen meningkatkan kualitas belajar-mengajar. “Mari kita berkomitmen: Anti Jam Kosong,” pungkasnya disambut antusiasme siswa.

Momen ini menjadi kado perpisahan yang indah bagi Kelas 12, sekaligus bekal mental yang kuat sebelum mereka melangkah ke jenjang ujian dan masa depan yang lebih tinggi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *